Info Mabit Manhaj Rosululloh
8:43 AM| Waktu | 21 Mei · 18:00 - 21:00 |
|---|---|
| Tempat | Masjid Al-Hikmah Telkom Supratman |
| Dibuat oleh: | |
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Insya Allah Mabit Manhaj Rasululla SAW akan dilaksanakan pada : Hari/Tgl : Sabtu-Ahad / 21-22 Mei 2011 Pukul : 18.00 - 6.00 WIB Pemateri : KH. Drs. Djalaluddin Asy-Syatibi. acara: - tasmi' - Motivasi Tahfizhul Quran - Kajian Hadits Arba'in ke-5 "Bolehkah Bid'ah?" - qiyamullail | |
Bagi ikhwah fillah yang ingin tahu info lanjut tentang manhaj Rosululloh silahkan posting
comment. Insya Allah kita jawab comment antum. Kita juga menerima saran dan kritik dari antum terkait acara mabit manhaj rosululloh.
TAWAF ALAM SEMESTA
5:01 PMOleh : Bambang-Sulies
Setiap benda di alam ini selalu bergerak berputar untuk menjaga keseimbangan. Dalam alam mikro, pada bagian terkecil dari setiap benda yang disebut atom, elektron-elektron selalu berputar mengelilingi inti (pusat) atom, disamping melakukan putaran rotasi dengan arah berlawanan dengan jarum jam seperti perputaran (rotasi) bumi.
Elektron dalam atom senantiasa berputar mengelilingi inti atom
Sumber : www.creationofuniverse.com
Elektron dalam atom senantiasa berputar mengelilingi inti atom
Sumber : www.creationofuniverse.com
Dalam alam makro, bumi bersama 8 planet yang lain (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto) berputarmengelilingi matahari (dalam tata surya matahari kita).
Planet-planet senantiasa berputar mengelilingi matahari
Sumber : www.creationofuniverse.com
Planet-planet senantiasa berputar mengelilingi matahari
Sumber : www.creationofuniverse.com
Sementara itu mataharibersama bumi, 8 planet yang lain, dan puluhan bulan juga berputar mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti. Apakah galaksi Bimasakti hanya mempunyai satu matahari, bumi dan 8 planet itu? Ternyata tidak!. Galaksi Bimasakti mempunyai sekitar milyaran matahari. Perjalanan matahari ini juga telah telah dijelaskan dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu :
“Dan Matahari berjalan di tempat peredarannya untuk masa yang telah ditentukan baginya. Itulah ketetapan dari Yang Maha Kuasa lagi Maha mengetahui. Dan bagi bulan telah Kami tetapkan manzilah-manzilah, sehingga dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin matahari menyusul bulan dan tidak mungkin malam mendahului siang karena semua beredar pada garis orbitnya” (QS. Yasiin : 38-40)
Planet-planet senantiasa berputar mengelilingi matahari
Sumber : www.creationofuniverse.com
Black Hole : Pusat edar Galaksi Bimasakti.
Sumber : www.creationofuniverse.com
Ini adalah ilmu pengetahuan modern. Perjalananmatahari mengelilingi pusat galaksi bimasakti (yang disebut black hole) baru diketahui oleh para ilmuwan modern pada akhir abad ke 20, namun telah diucapkan oleh seorang Nabi yang ummi, yang tidak dapat membaca dan menulis, dan belum ada teleskop. Inilah Firman Allah yang diwahyukan ke dalam kalbu Nabi Muhammad SAW. Inilah Mukjizat Al Qur’an yang akan selalu up to date sepanjang jaman.
Apakah di langit sana hanya ada satu galaksi saja, yaitu Galaksi Bimasakti itu? Ternyata tidak!. Galaksi bimasakti bersama galaksi-galaksi lain (milyaran galaksi lain) membentuk kluster galaksi. Selanjutnya sistem kluster galaksi yang terdiri atas milyaran benda-benda angkasa seperti matahari, planet, bulan, meteor, asteroid, dan lain-lain juga berputar (tawaf) mengelilingi pusat galaksi, yang oleh NASA disebut ”Monster Black Hole” karena ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan black hole dalam galaksi bimasakti. Apakah hanya itu alam smesta ini? Subhanallah, ternyata kluster galaksi yang berisi trilyunan benda-benda nagkasa itu tidak hanya satu, tapi masih ada milyaran lagi di sana, dan semuanya berputar (tawaf) mengelilingi pusat yang entah berada di mana karena hingga saat ini belum ada teleskop tercanggih yang berhasil memotretnya. NASA sendiri mengakui bahwa pengetahuan manusia mengenai alam semesta hingga sekarang ini kira-kira baru sebesar 3 % saja.
Semua benda langit yang senantiasa berputar (tawaf) itu selalu dalam keadaan keseimbangan, sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al Qur’an :
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah yang tidak seimbang. Lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al Mulk : 3)
Galaksi Bimasakti : Mempunyai milyaran matahari,
semuanya berputar mengelilingi pusat (Black Hole)
Sumber : www.creationofuniverse.com
Terbayang bukan, betapa luas jagat raya ini!. Di langit Allah ini ada bermilyar-milyar matahari, planet dan bulan, sehingga benda-benda angkasa jumlahnya trilyunan! Dan planet bumi yang kita tempati ini sangatlah kecil di antara benda-benda langit yang berjumlah trilyunan itu. Bumi kita ini bagaikan sebutir pasir di antara seluruh pasir yang terhampar di seluruh permukaan bumi. Dan disanalah manusia tinggal dengan berbagai kesombongannya. Betapa bumi kita ini sangat rapuh dengan berbagai ancaman bahaya dari luar angkasa maupun dari dalam bumi sendiri, dan kita yang tinggal disana sungguh tidak punya kekuatan apa-apa terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa, pemilik langit dan bumi.
Sementara jagat raya ini selalu bertawaf, bertasbih dengan ketundukannya kepada sang Pencipta, maka manusia sebagai bagian dari jagat raya ini juga senantiasa bertawaf. Ka’bah adalah Rumah Allah (Baitullah), symbol keberadaan Allah di bumi, pusat jiwa dan manusia dari segenap penjuru negri, tempat suci yang penuh cahaya dan energi. Di sanalah manusia bertawaf ketika melaksanakan ibadah Umrah dan Haji.
Manusia bertawaf mengelilingi Ka’bah
Sumber : National Geographic, Inside Mecca
Tawaf adalah berjalan berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dimulai dan diakhiri pada garis coklat yang ditarik dari titik Hajar Aswad. Jika situasi dan kondisi memungkinkan, bagi laki-laki disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad terlebih dulu, namun jika tidak memungkinkan dapat dilakukan dengan mengangkat tangan (istislam), sebagai tanda seseorang yang berbaiat, berjanji kepada Allah SWT untuk terus menerus memegang janji dalam syahadatnya.
Tawaf adalah ritual haji untuk mengasah komitmen dan integritas kepada Allah SWT. Komitmen tidak sekedar janji di mulut, tapi harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata dan terukur. Setelah kita melakukan evaluasi dan introspeksi selama wukuf, maka di dalam tawaf kita melakukan pembangunan mental untuk selalu menjadikan Allah sebagai komitmen, sebagai prinsip, serta memegang teguh ketulusan dan kejujuran.
Bayangkan ketika kita bertawaf mengelilingi Ka’bah, bulan juga bertawaf mengelilingi bumi yang mengakibatkan terjadinya pergantian waktu bulan. Ketika kita bertawaf mengelilingi Ka’bah, bumi juga bertawaf mengelilingi matahari yang mengakibatkan terjadinya pergantian tahun. Bumi bertawaf dengan kecepatan yang luar biasa, yaitu berputar pada porosnya dengan kecepatan 1600 Km/jam, dan juga berputar mengelilingi matahari dengan kecepatan 107.000 Km/jam. Sungguh suatu kecepatan yang menakjubkan, jauh lebih cepat dari pesawat angkasa ulang-alik yang paling canggih dengan kecepatan 20.000 Km/jam. Allah yang Maha Cerdas, Ar Rosyid telah mengatur kecepatan tawaf bumi, bulan dan matahari sedemikian rupa agar tercapai kseimbangan alam yang terus menerus, dengan pergantian waktu yang tepat. Dengan tawaf bumi, bulan, dan matahari yang demikian cepat, waktu berlalu dengan cepat, waktu selalu maju tak pernah berulang, maka waktu yang masih kita miliki untuk hidup jangan sampai disia-siakan. Kita harus berpacu dengan waktu untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal kebaikan.
Bumi yang kita tempati ini selalu tunduk pada perintah Allah, berputar pada porosnya seperti gasing (berotasi) dan juga mengelilingi matahari (berevolusi) tanpa henti, tak pernah lelah dan membantah, padahal bumi tidak diberi akal. Lalu mengapa kita, manusia yang diberi akal masih saja sering membantah dan tidak tunduk secara total kepada perintah Allah? Bahwa sesungguhnya ketika kita sholat berjamaah, kita tidak hanya berjamaah dengan orang lain, tapi kita juga berjamaah bersama bumi, bulan, matahari, planet-planet dan galaksi-galaksi di alam semesta. Kenapa demikian? Karena secara fisik, gerakan sholat itu identik dengan gerakakan berputar (tawaf) yang mengandung unsur sudut 360o sekali putar. Ketika benda-benda angkasa dan juga jamaah haji sedang berputar (tawaf), kita yang sedang sholat juga identik dengan tawaf, satu rakaat identik dengan satu putaran tawaf. Maka tanpa kita sadari, setiap kali sholat, kita berjamaah dengan bumi tempat kita berdiri.
Gerakan sholat. Dalam satu rakaat mengandung gerakan memutar 360o,
setara dengan satu kali putaran tawaf, 360o sekali putar
Orang yang mengaku muslim tapi tidak mendirikan sholat sama saja dengan bumi yang tidak berputar, bulan tidak berputar, planet-planet tidak berputar, matahari dan bintang-bintang lain juga tidak berputar. Apa akibatnya jika semua benda angkasa berhenti berputar? Maka benda-benda angkasa itu akan tertarik ke arah pusat edarnya dengan gaya gravitasi yang sangat besar, lalu terbakar dan hancur. Demikian pula seorang muslim yang tidak sholat berarti merusak keseimbangan alam, menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat. Demi untuk menjaga sunatullah itulah maka Allah memerintahkan sholat sebagai ritual ibadah yang sangat penting, yang tidak dapat ditinggalkan meskipun sedang sakit. Orang sakit, selama masih ada kesadaran tetap wajib menjalankan sholat, dengan fasilitas keringanan yang diberikan Allah. Seorang muslim yang tidak sholat sangat berpotensi merusak jati dirinya karena tidak dapat mengimplementasikan makna sholat ke dalam perilakunya. Wallahualam Bishawab.
sumber: http://www.pondokbelajar.com/faq/38-serial-sains-al-quran/48-serial-sains-al-quran
Ta'lim BILAL
7:21 AM
Mukhtashar Ibnu Katsir (Selasa, Ba'da Shubuh - 6.00)
Abdul Rahman
Abdur Rauf
Aditya
Asep Solihin
Bayu Kusuma
Buldani
Deny H
Dodri sopiyandi
Hasan
Iwan F
Jalu
Lukman
M Idham Anwar
M Yusuf Hasyim
Panji Lhoro T
Rendy Saputra
Ridho
Rudi
Ruqi
Thoyib Iskandari
==============
Fathul Majid (Rabu, Ba'da Shubuh - 6.00)
Abdul Rohman
Aditya
Ahmad Fauzi
Asrul
Bayu Kusuma
Hasan
Jalu
M Rido
M Rindu Fajar
M Ruqy
Thoyib Iskandari
Toteng S
Ujang
=============
Peserta ta'lim fiqh (rabu, 10.00-11.30)
Bu Mimin
Bu Eem
Bu Ida
Bu Neneng
Bu Wati
Bu Rina
Bu Dian
Bu Adel
Bu Yuli
Bu Zirly
Bu Ana
Bu Nur
Bu Tita
Bu Lana
===========
Peserta Pengajian Ibu-ibu (Sabtu, 10.00-11.30)
Bu Euis
Bu Didin
Bu Mutia
Bu Cucu
Bu Nur
Bu Lana
===========
Peserta Pengajian Ibu-ibu (Ahad, ba'da Ashar-17.00)
Ibu-ibu warga sekitar BILAL
Abdul Rahman
Abdur Rauf
Aditya
Asep Solihin
Bayu Kusuma
Buldani
Deny H
Dodri sopiyandi
Hasan
Iwan F
Jalu
Lukman
M Idham Anwar
M Yusuf Hasyim
Panji Lhoro T
Rendy Saputra
Ridho
Rudi
Ruqi
Thoyib Iskandari
==============
Fathul Majid (Rabu, Ba'da Shubuh - 6.00)
Abdul Rohman
Aditya
Ahmad Fauzi
Asrul
Bayu Kusuma
Hasan
Jalu
M Rido
M Rindu Fajar
M Ruqy
Thoyib Iskandari
Toteng S
Ujang
=============
Peserta ta'lim fiqh (rabu, 10.00-11.30)
Bu Mimin
Bu Eem
Bu Ida
Bu Neneng
Bu Wati
Bu Rina
Bu Dian
Bu Adel
Bu Yuli
Bu Zirly
Bu Ana
Bu Nur
Bu Tita
Bu Lana
===========
Peserta Pengajian Ibu-ibu (Sabtu, 10.00-11.30)
Bu Euis
Bu Didin
Bu Mutia
Bu Cucu
Bu Nur
Bu Lana
===========
Peserta Pengajian Ibu-ibu (Ahad, ba'da Ashar-17.00)
Ibu-ibu warga sekitar BILAL
Progres Santri BILAL
7:11 AM
1. Tahfizhul Quran
Kegiatan menyetorkan hafalan baru (ziyadah) dimulai ba’da Shubuh sampai jam 6.00 setiap harinya, kecuali hari Selasa dan Rabu dikarenakan adanya kegiatan Ta’lim.
Nama | Hafalan
Aditya Amrullah | 1,5
Ahmad Fauzi | 1,5
Asrul Kautsar | 0,5
Jalu Naradi | 9,25
Mohammad Rido F I | 3,75
Mohammad Ruqy F I | 9,25
Muhammad Hasan S | 15
Panji Loro Tegar | 2
Ujang Ma'hud | 2
2. Muraja’ah
Muraja’ah atau mengulang hafalan dilakukan ba’da Maghrib sampai jam 20.00 setiap harinya. Muraja’ah dapat dilakukan secara personal maupun disetorkan ke ustadz.
3. Tasmi’
Tasmi’ atau memperdengarkan hafalan dengan tartil dilakukan setiap malam ahad ba’da Isya hingga selesai. Biasanya, tasmi’ 1 juz dilakukan oleh 2 atau 3 orang. Hingga saat ini, juz yang sudah pernah ditasmi’kan adalah juz 30,29,1,2.
4. Ta’lim
Untuk menambah tsaqofah keislaman santri, diadakan ta’lim yang diisi oleh Ust. Djalaluddin Asy-Syatibi.
5. Daur
Untuk menjaga kebugaran tubuh santri, diadakan aktivitas Daur seminggu sekali setiap hari Ahad pagi. Biasanya Daur dilakukan di rute-rute yang menarik dan menantang di sekitar kawasan BILAL.
Kegiatan menyetorkan hafalan baru (ziyadah) dimulai ba’da Shubuh sampai jam 6.00 setiap harinya, kecuali hari Selasa dan Rabu dikarenakan adanya kegiatan Ta’lim.
Nama | Hafalan
Aditya Amrullah | 1,5
Ahmad Fauzi | 1,5
Asrul Kautsar | 0,5
Jalu Naradi | 9,25
Mohammad Rido F I | 3,75
Mohammad Ruqy F I | 9,25
Muhammad Hasan S | 15
Panji Loro Tegar | 2
Ujang Ma'hud | 2
2. Muraja’ah
Muraja’ah atau mengulang hafalan dilakukan ba’da Maghrib sampai jam 20.00 setiap harinya. Muraja’ah dapat dilakukan secara personal maupun disetorkan ke ustadz.
3. Tasmi’
Tasmi’ atau memperdengarkan hafalan dengan tartil dilakukan setiap malam ahad ba’da Isya hingga selesai. Biasanya, tasmi’ 1 juz dilakukan oleh 2 atau 3 orang. Hingga saat ini, juz yang sudah pernah ditasmi’kan adalah juz 30,29,1,2.
4. Ta’lim
Untuk menambah tsaqofah keislaman santri, diadakan ta’lim yang diisi oleh Ust. Djalaluddin Asy-Syatibi.
5. Daur
Untuk menjaga kebugaran tubuh santri, diadakan aktivitas Daur seminggu sekali setiap hari Ahad pagi. Biasanya Daur dilakukan di rute-rute yang menarik dan menantang di sekitar kawasan BILAL.
Adab Dalam Membaca AlQuran
7:29 AM
1. NIAT YANG IKHLAS KARENA ALLAH
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW: “Sesungguhnya ALLAH SWT tidak memandang kepada bentuk tubuhmu dan tidak juga pada rupa wajahmu, tetapi IA memandang kepada keikhlasan hatimu.” (HR Muslim)
Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata: “Aku membonceng Nabi SAW yang sedang mengendarai Keledai, maka beliau SAW berkata padaku: Wahai Mu’adz, tahukah Anda apa hak ALLAH terhadap hamba dan apa hak hamba terhadap ALLAH? Maka saya menjawab: ALLAH dan Rasul-NYA lebih mengetahui. Maka kata Nabi SAW: Hak ALLAH terhadap hamba adalah agar mereka beribadah kepada-NYA dan tidak menyekutukan-NYA sedikitpun. Dan hak hamba terhadap ALLAH adalah bahwa ALLAH tidak akan menyiksa hamba yang tidak menyekutukan kepada ALLAH sedikitpun.” (HR Muttafaq ‘alaih)
2. BERWUDHU SEBELUM QIRO’AH
“Seseorang memberi salam kepada Nabi SAW ketika beliau SAW sedang berwudhu maka beliau SAW menunda menjawab salam tersebut sampai beliau SAW selesai berwudhu’ baru kemudian dijawab salamnya oleh beliau SAW, sambil bersabda: Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu tadi, melainkan karena aku tidak suka menyebut nama ALLAH, kecuali dalam keadaan suci.” (HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)
3. MENGGUNAKAN SIWAK SEBELUM QIRO’AH
“Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. MEMILIH TEMPAT/PAKAIAN YANG SUCI
Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Bahwa mesjid ALLAH tidak layak dikenai kencing atau kotoran manusia, karena sesungguhnya ia adalah untuk berdzikir kepada ALLAH dan membaca Al-Qur’an.” (HR Muslim)
5. MEMBACA ISTI’ADZAH
“Maka apabila kamu membaca al-Qur’an maka mohonlah perlindungan dari Syaithon yang terkutuk.” (QS An-Nahl 16:98)
6. SUNNAH MEMBAGUSKAN SUARA
“Barangsiapa yang tidak menghiasi al-Qur’an dengan suaranya maka bukan termasuk golonganku.” (HR Abu Daud)
“Sungguh sebaik-baiknya suara manusia yang membaca al-Qur’an ialah yang jika engkau mendengar suara bacaannya maka engkau merasa bahwa ia seorang yang sangat takut kepada Allah.” (HR Abu Daud)
7. MERENDAHKAN SUARA SAAT MEMBACA TERUTAMA SAAT BERADA DITEMPAT YANG RAMAI
“Dan serulah Rabb-mu dengan merendahkan diri dan merasa takut, sesungguhnya IA tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raaf, 7:55)
“Dan sederhanakanlah berjalanmu dan rendahkanlah suaramu, karena sesungguhnya sejelek-jelek suara itu adalah suara keledai.” (QS Luqman, 31:19)
8. MERASA TAKUT DAN KHUSYU’
Dan apabila dibacakan dihadapan mereka ayat-ayat ALLAH, maka mereka segera bersujud sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS Al-Israa’, 17:109)
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: Bersabda Nabi SAW padaku pada suatu hari sebagai berikut: Wahai Ibnu Mas’ud, bacakan al-Qur’an untukku. Maka aku bertanya: Apakah aku akan membacakannya untukmu padahal al-Qur’an itu diturunkan kepadamu? Jawab beliau SAW: Aku senang mendengarkannya dari orang lain. Maka kubacakan surat An-Nisaa’ dihadapan beliau SAW, sampai ketika aku sampai pada ayat: Maka bagaimanakah keadaanmu hai Muhammad, saat KAMI mendatangkan setiap ummat dengan seorang saksi nanti dan KAMI datangkan engkau sebagai saksi atas mereka semua? (QS An-Nisaa’ 4:41); Maka bersabdalah beliau SAW padaku: Cukup sampai disini hai Ibnu Mas’ud. Maka aku melirik pada wajah beliau SAW, maka kulihat wajahnya sudah penuh dengan linangan airmata. (HR Bukhari Muslim)
9. MERASAKAN BAHWA ALLAH SWT SEDANG MENDENGARKAN BACAANNYA
Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sesuatupun yang lebih disenangi oleh ALLAH SWT melainkan mendengarkan bacaan seorang hamba-NYA yang merdu sedang membaca al-Qur’an dengan jelas.” (HR Bukhari dan Muslim)
10. BERUSAHA MEMENUHI KAIDAH TAJWIDNYA, MEMAHAMI DAN MENGAMALKANNYA
“Beliau SAW membaca al-Qur’an dengan perlahan, setiap bertemu dengan ayat tasbih beliau SAW bertasbih, setiap bertemu dengan ayat perlindungan beliau SAW berta’awwudz dan setiap bertemu dengan ayat pertanyaan, maka beliau SAW menjawabnya.” (HR Muslim)
Tafsir Ibnu Abbas ra atas QS Al-Furqaan (25:30)
Wallahu a’lam.
http://www.al-ikhwan.net/adab-membaca-al-quran-46/
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW: “Sesungguhnya ALLAH SWT tidak memandang kepada bentuk tubuhmu dan tidak juga pada rupa wajahmu, tetapi IA memandang kepada keikhlasan hatimu.” (HR Muslim)
Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata: “Aku membonceng Nabi SAW yang sedang mengendarai Keledai, maka beliau SAW berkata padaku: Wahai Mu’adz, tahukah Anda apa hak ALLAH terhadap hamba dan apa hak hamba terhadap ALLAH? Maka saya menjawab: ALLAH dan Rasul-NYA lebih mengetahui. Maka kata Nabi SAW: Hak ALLAH terhadap hamba adalah agar mereka beribadah kepada-NYA dan tidak menyekutukan-NYA sedikitpun. Dan hak hamba terhadap ALLAH adalah bahwa ALLAH tidak akan menyiksa hamba yang tidak menyekutukan kepada ALLAH sedikitpun.” (HR Muttafaq ‘alaih)
2. BERWUDHU SEBELUM QIRO’AH
“Seseorang memberi salam kepada Nabi SAW ketika beliau SAW sedang berwudhu maka beliau SAW menunda menjawab salam tersebut sampai beliau SAW selesai berwudhu’ baru kemudian dijawab salamnya oleh beliau SAW, sambil bersabda: Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu tadi, melainkan karena aku tidak suka menyebut nama ALLAH, kecuali dalam keadaan suci.” (HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)
3. MENGGUNAKAN SIWAK SEBELUM QIRO’AH
“Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. MEMILIH TEMPAT/PAKAIAN YANG SUCI
Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Bahwa mesjid ALLAH tidak layak dikenai kencing atau kotoran manusia, karena sesungguhnya ia adalah untuk berdzikir kepada ALLAH dan membaca Al-Qur’an.” (HR Muslim)
5. MEMBACA ISTI’ADZAH
“Maka apabila kamu membaca al-Qur’an maka mohonlah perlindungan dari Syaithon yang terkutuk.” (QS An-Nahl 16:98)
6. SUNNAH MEMBAGUSKAN SUARA
“Barangsiapa yang tidak menghiasi al-Qur’an dengan suaranya maka bukan termasuk golonganku.” (HR Abu Daud)
“Sungguh sebaik-baiknya suara manusia yang membaca al-Qur’an ialah yang jika engkau mendengar suara bacaannya maka engkau merasa bahwa ia seorang yang sangat takut kepada Allah.” (HR Abu Daud)
7. MERENDAHKAN SUARA SAAT MEMBACA TERUTAMA SAAT BERADA DITEMPAT YANG RAMAI
“Dan serulah Rabb-mu dengan merendahkan diri dan merasa takut, sesungguhnya IA tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raaf, 7:55)
“Dan sederhanakanlah berjalanmu dan rendahkanlah suaramu, karena sesungguhnya sejelek-jelek suara itu adalah suara keledai.” (QS Luqman, 31:19)
8. MERASA TAKUT DAN KHUSYU’
Dan apabila dibacakan dihadapan mereka ayat-ayat ALLAH, maka mereka segera bersujud sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS Al-Israa’, 17:109)
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: Bersabda Nabi SAW padaku pada suatu hari sebagai berikut: Wahai Ibnu Mas’ud, bacakan al-Qur’an untukku. Maka aku bertanya: Apakah aku akan membacakannya untukmu padahal al-Qur’an itu diturunkan kepadamu? Jawab beliau SAW: Aku senang mendengarkannya dari orang lain. Maka kubacakan surat An-Nisaa’ dihadapan beliau SAW, sampai ketika aku sampai pada ayat: Maka bagaimanakah keadaanmu hai Muhammad, saat KAMI mendatangkan setiap ummat dengan seorang saksi nanti dan KAMI datangkan engkau sebagai saksi atas mereka semua? (QS An-Nisaa’ 4:41); Maka bersabdalah beliau SAW padaku: Cukup sampai disini hai Ibnu Mas’ud. Maka aku melirik pada wajah beliau SAW, maka kulihat wajahnya sudah penuh dengan linangan airmata. (HR Bukhari Muslim)
9. MERASAKAN BAHWA ALLAH SWT SEDANG MENDENGARKAN BACAANNYA
Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sesuatupun yang lebih disenangi oleh ALLAH SWT melainkan mendengarkan bacaan seorang hamba-NYA yang merdu sedang membaca al-Qur’an dengan jelas.” (HR Bukhari dan Muslim)
10. BERUSAHA MEMENUHI KAIDAH TAJWIDNYA, MEMAHAMI DAN MENGAMALKANNYA
“Beliau SAW membaca al-Qur’an dengan perlahan, setiap bertemu dengan ayat tasbih beliau SAW bertasbih, setiap bertemu dengan ayat perlindungan beliau SAW berta’awwudz dan setiap bertemu dengan ayat pertanyaan, maka beliau SAW menjawabnya.” (HR Muslim)
Tafsir Ibnu Abbas ra atas QS Al-Furqaan (25:30)
Wallahu a’lam.
http://www.al-ikhwan.net/adab-membaca-al-quran-46/
Penjagaan Allah Terhadap AlQuran
6:16 AM
Bismillahirrahmanirrahim
Allah berfirman "sesungguhnya Kamilah yang menurunkan AlQuran dan sesungguhnya Kami benar-benar memiliharanya" (QS AlHijr : 9)
Ini adalah kabar dari Allah melalui lisan rasulNya Muhammad SAW yang menjelaskan penjagaan Allah terhadap AlQuran dari semua kekurangan atau penambahan, rusak atau hilang, berubah dan penyimpangan, tidak akan ada kebatilan didalamnya sehingga kemurnian AlQuran tetap terjaga sampai kapanpun. Dan itu semua telah tetap dengan dalil-dalil qoth'i yang didapat pada tingkatan penjagaan Allah sebagai berikut:
1. Tingkatan pertama : Penjagaan Allah terhadap AlQuran di lauh mahfuzh. QS AlBuruj : 21-22 yang artinya : "Bahkan (yang didustakan) itu adalah AlQuran yang mulia yang (tersimpan) di tempat yang terjaga (Lauh Mahfuzh)".
2. Tingkatan kedua : Penjagaan Allah terhadap AlQuran dalam cara turunnya kepada nabi Muhammad SAW. Allah berfirman : "Dia yang mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun yang gaib itu. Kecuali kepada rasulyang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat
) di depan dan di belakangnya" (QS AlJin : 26-27) yaitu Jibril turun membawa AlQuran dan besertanya malaikat yang banyak menjaga di depan dan di belakang sebagaimana yang diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair dan AdhDhahak dalam tafsir Ibnu Katsir. Dan Allah berfirman sebagai pengkabaran tentang jin : "Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api" (QS AlJin : 8). Yaitu penjagaan yang kuat dan panah-panah api dari malaikat sehingga tidak dapat dicuri satu huruf pun dari AlQuran. Dan Allah berfirman dalam surat Jin ayat 9, "Dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit utuk mecuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang (setelah Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rasul) siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya)".
3. Tingkatan ketiga : Penjagaan Allah terhadap AlQuran dalam hati Nabi Muhammad SAW dan mengumpulkannya dalam dadanya yang mulia. Bukhari meriwayatkan dalam Shahinya dar Ibnu Abbas RA tentang firman Allah, "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca AlQuran) karena hendak cepat-cepat (menguasainya) sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu. Kemudian sesungguhnya Kami akan menjelaskannya." (QS AlQiyamah : 16-19). Adalah Rasulullah apabila Jibril turun dengan wahyu, beliau menggerakkan lisannya dan mulutnya karena ingin cepat membaca apa yang dibaca oleh Jibril. Maka Allah menurunkan ayat ini. Dan Allah berfirman dalam surat AlFurqan : 32, "Agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dan Kami membacakannya secara tartil". Maka AlQuran terjaga dalam hati Rasulullah SAW dalam lafazh dan maknanya dengan penjagaan Allah 'Azza Wa Jalla dan sesungguhnya Allah menjamin semuanya itu.
4. Tingkatan keempat : Penjagaan Allah terhadap AlQuran pada kondisi penyampainnya oleh Rasulullah SAW dan pembacaannya kepada para sahabat. Allah berfirman dalam surat AlQashash : 51, "Dan sungguh, Kami telah menyampaikan perkatan ini (AlQuran) kepada mereka agar mereka selalu mengingatnya". Dan firmanNya, "wahai rasul sampaikankanlah apa yang diturunkan tuhanmu kepadamu. jika engkau tidak lakukan 9(perintah itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanatNya.dan Allah memeliharaengkau dari godaan manusia. sungguh Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang kafir".(QS Almaidah :67 ) maka diantara syaratnubuwwah adalah tersampaikannya Al Quran dengan sempurna dan Allah berfirman" Tidaklahh yang diucapkannya itu (Al quran) menurut keinginannya. tidak lain (Al quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan(kepadanya). "QS AnNajm : 3-4) Dan firmanNya, "sebagaimana kami telah mengutus kpada kamu seorang rasul(Muhammad) dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat kami, menyucikan kamu ,dam mengajarkan kepadamu kitab (Alquran) dan Hikmah (sunnah) ." (Al baqarah : 151) ini menjadi dalil bahwasanya rasulullah SAW telah menyampaikan Al Quran sebagaimana diturunkan kapadanya, tanpa pengurangan dan penambahan satu huruf pun dan ini menjadi kewajiban bagi ummat muslim untuk mengimaninya.
5. Tingkatan kelima : penjagaan Allah kepada Al quran setelah penyampaiannya oleh rasul dan kekekalannya sampai hari kiamat. " Allah berfirman " sesungguhya kamilah yang menurunkan Al quran dan sesungguhnya kami bener-benar memeliharanya" (QS Al Hijr : 9)Dan penjagaan ini ada tiga aspek : 1. penjagaan huruf dan kalimat-kalimatnya secara sempurnya yang turun kepada Rosulullah SAW dan dinukilkan dengan jalan yang tersambung sampai hari kiamat. 2. penjagaan penjelasaannya Al Quran, yaitu hadist nabi SAW. 3. penjagaan oleh para penghafal Al Quran dalam pengucapannya dan tartilnya sebagaimana diturunkan" Wallahu a'lam.
Ustadz. Yusuf Hasyim
Allah berfirman "sesungguhnya Kamilah yang menurunkan AlQuran dan sesungguhnya Kami benar-benar memiliharanya" (QS AlHijr : 9)
Ini adalah kabar dari Allah melalui lisan rasulNya Muhammad SAW yang menjelaskan penjagaan Allah terhadap AlQuran dari semua kekurangan atau penambahan, rusak atau hilang, berubah dan penyimpangan, tidak akan ada kebatilan didalamnya sehingga kemurnian AlQuran tetap terjaga sampai kapanpun. Dan itu semua telah tetap dengan dalil-dalil qoth'i yang didapat pada tingkatan penjagaan Allah sebagai berikut:
1. Tingkatan pertama : Penjagaan Allah terhadap AlQuran di lauh mahfuzh. QS AlBuruj : 21-22 yang artinya : "Bahkan (yang didustakan) itu adalah AlQuran yang mulia yang (tersimpan) di tempat yang terjaga (Lauh Mahfuzh)".
2. Tingkatan kedua : Penjagaan Allah terhadap AlQuran dalam cara turunnya kepada nabi Muhammad SAW. Allah berfirman : "Dia yang mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun yang gaib itu. Kecuali kepada rasulyang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat
) di depan dan di belakangnya" (QS AlJin : 26-27) yaitu Jibril turun membawa AlQuran dan besertanya malaikat yang banyak menjaga di depan dan di belakang sebagaimana yang diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair dan AdhDhahak dalam tafsir Ibnu Katsir. Dan Allah berfirman sebagai pengkabaran tentang jin : "Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api" (QS AlJin : 8). Yaitu penjagaan yang kuat dan panah-panah api dari malaikat sehingga tidak dapat dicuri satu huruf pun dari AlQuran. Dan Allah berfirman dalam surat Jin ayat 9, "Dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit utuk mecuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang (setelah Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rasul) siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya)".
3. Tingkatan ketiga : Penjagaan Allah terhadap AlQuran dalam hati Nabi Muhammad SAW dan mengumpulkannya dalam dadanya yang mulia. Bukhari meriwayatkan dalam Shahinya dar Ibnu Abbas RA tentang firman Allah, "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca AlQuran) karena hendak cepat-cepat (menguasainya) sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu. Kemudian sesungguhnya Kami akan menjelaskannya." (QS AlQiyamah : 16-19). Adalah Rasulullah apabila Jibril turun dengan wahyu, beliau menggerakkan lisannya dan mulutnya karena ingin cepat membaca apa yang dibaca oleh Jibril. Maka Allah menurunkan ayat ini. Dan Allah berfirman dalam surat AlFurqan : 32, "Agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dan Kami membacakannya secara tartil". Maka AlQuran terjaga dalam hati Rasulullah SAW dalam lafazh dan maknanya dengan penjagaan Allah 'Azza Wa Jalla dan sesungguhnya Allah menjamin semuanya itu.
4. Tingkatan keempat : Penjagaan Allah terhadap AlQuran pada kondisi penyampainnya oleh Rasulullah SAW dan pembacaannya kepada para sahabat. Allah berfirman dalam surat AlQashash : 51, "Dan sungguh, Kami telah menyampaikan perkatan ini (AlQuran) kepada mereka agar mereka selalu mengingatnya". Dan firmanNya, "wahai rasul sampaikankanlah apa yang diturunkan tuhanmu kepadamu. jika engkau tidak lakukan 9(perintah itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanatNya.dan Allah memeliharaengkau dari godaan manusia. sungguh Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang kafir".(QS Almaidah :67 ) maka diantara syaratnubuwwah adalah tersampaikannya Al Quran dengan sempurna dan Allah berfirman" Tidaklahh yang diucapkannya itu (Al quran) menurut keinginannya. tidak lain (Al quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan(kepadanya). "QS AnNajm : 3-4) Dan firmanNya, "sebagaimana kami telah mengutus kpada kamu seorang rasul(Muhammad) dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat kami, menyucikan kamu ,dam mengajarkan kepadamu kitab (Alquran) dan Hikmah (sunnah) ." (Al baqarah : 151) ini menjadi dalil bahwasanya rasulullah SAW telah menyampaikan Al Quran sebagaimana diturunkan kapadanya, tanpa pengurangan dan penambahan satu huruf pun dan ini menjadi kewajiban bagi ummat muslim untuk mengimaninya.
5. Tingkatan kelima : penjagaan Allah kepada Al quran setelah penyampaiannya oleh rasul dan kekekalannya sampai hari kiamat. " Allah berfirman " sesungguhya kamilah yang menurunkan Al quran dan sesungguhnya kami bener-benar memeliharanya" (QS Al Hijr : 9)Dan penjagaan ini ada tiga aspek : 1. penjagaan huruf dan kalimat-kalimatnya secara sempurnya yang turun kepada Rosulullah SAW dan dinukilkan dengan jalan yang tersambung sampai hari kiamat. 2. penjagaan penjelasaannya Al Quran, yaitu hadist nabi SAW. 3. penjagaan oleh para penghafal Al Quran dalam pengucapannya dan tartilnya sebagaimana diturunkan" Wallahu a'lam.
Ustadz. Yusuf Hasyim
Jadwal Khutbah Jum'at K.H. Djalaluddin Asy-Syatibi (Abi)
5:45 AMBULAN JULI
Pada bulan juli alhamdulillah
abi sedang menjalankan ibadah haji.
Maka pada bulan ini beliau tidak mengisi khutbah.